Dikatakan menarik –setidaknya menurut saya– karena hampir setiap kejadian plagiarisme, entah dilakukan sengaja maupun tidak, bila diusut-usut karena mengabaikan persoalan parafrase. Mungkin si pelaku plagiat belum tuntas memahami parafrase, atau mungkin menganggap menulis menggunakan teknik parafrase terlalu menyita waktu hingga mencari jalan pintas. Jalan yang akhirnya dikecam banyak orang, PLAGIAT.
Sebelum kita mengetengahkan definisi dari beragam sumber mengenai apa itu parafrase, dalam benak pembaca saya yakin sudah mengantongi definisi sendiri. Apalagi Anda yang menjadikan tulis menulis bagian dari kegiatan sehari-hari. Lebih lagi, jika anda pernah menulis buku yang bersumber dari karya ilmiah. Yah, parafrase secara sederhana ialah menulis kalimat orang lain, bahasa orang lain, menggunakan bahasa dan kalimat kita sendiri. Atau mengubah susunan kalimat yang tadinya berat dan kaku menjadi kalimat yang enak dibaca, tanpa mengurangi substansi dari kalimat tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya tanpa kita sadari, kegiatan melakukan parafrase itu sering kita lakukan. Misalnya kita mendapat kabar dari kawan kita A tentang ibunya yang dirawat di rumah sakit. Kemudian kabar itu kita sampaikan ke kawan lain, katakanlah kawan C, tentang berita yang sudah disampaikan oleh kawan A. Tentu dari bahasa dan kalimat yang kita gunakan tidak sama persis dengan kawan A sampaikan, meskipun substansi dan isi berita tetap sama yakni ibu dari kawan A sedang di rawat di rumah sakit. Itulah parafrase, meskipun yang dilakukan ialah menggunakan Bahasa lisan.
Lantas apa sih sebenarnya parafrase itu? Parafrase sendiri terambil dari ahasa latin “paraphrasis“ dan bahasa yunani παράφρασις (Parafrasein) yang artinya “ekspresi tambahan”. Secara sederhana, parafrase didefinsikan sebagai penguraian kembali suatu teks atau karangan dalam bentuk susunan kata-kata yang lain dengan tujuan menjelaskan adanya makna tersembunyi. Dalam pembahasan lain dikatakan bahwa parafrase ialah menyampaikan kembali dalam bentuk tulisan suatu karangan dengan kata-kata sendiri sehingga didapati pemahaman lebih jelas dan tersingkap makna yang belum tersampaikan. Tetap saja bahwa dalam hal ini tidak mengubah makna dan inti dari karangan tersebut.
Dalam Kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary, parafrase merupakan cara mengekspresikan apa yang sudah ditulis. Di sini dapat dikatakan bahwa parafrase merupakan penulisan yang mana orang lain menggunakan kata-kata berbeda untuk membuat kalimat yang ditulis lebih mudah dimengerti.
Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebutkan bahwa parafrase adalah pengungkapan kembali suatu tuturan dari sebuah tingkatan atau macam bahasa menjadi lain dari tulisan asli, namun tanpa mengubah pengertian yang dimaksud di dalamnya.
Demikian beberapa defenisi tentang parafrase dari beragam sumber. Namun apabila ditarik benang merahnya, parafrase merupakan teknik menulis ulang sebuah karya tulis namun menggunakan bahasa dan susunan yang sendiri tanpa merngubah pengertian dan maksud dari tulisan tersebut.
Bagi seorang penulis apalagi yang ingin menerbitkan karya ilmiah menjadi buku, tentu parafrase menjadi metode yang mutlak diperlukan. Dengan demikian bahasa yang digunakan mudah diterima serta mudah dicerna dengan baik oleh pembaca yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda.
Kegiatan plagiarism sendiri merupakan kegiatan menjiplak karya orang lain. Dalam hal ini kegiatan tersebut termasuk kategori pencurian karya orang lain atau hak cipta orang lain. Dengan teknik parafrase kita menyampaikan ide dan gagasan orang lain dengan bahasa dan kalimat kita sendiri. Dan kegiatan ini tidak termasuk dalam kategori melanggar hukum.
Kerap kali tulisan yang berat menyulitkan pembaca untuk memahaminya. Menulis dengan teknik parafrase memungkinkan pembaca dapat lebih mudah mengerti dan memahami maksud dari gagasan, karena disampaikan dengan sederhana dan mudah dimengerti banyak orang.
Sebagaimana dijelaskan di atas, parafrase merupakan penguraian sebuah tulisan atau gagasan untuk disampaikan ulang menggunakan susunan kata serta bahasa sendiri. Kasus yang sering menggunakan parafrase ialah jika kita ingin mengubah karya tulis ilmiah kita menjadi sebuah buku yang diterbitkan. Dalam kasus ini penerbit tidak akan mau menerbitkan karya tulis menjadi buku. Karena menurut peraturan perpustaakan nasional karya tulis ilmiah, semisal skripsi, tesis, desertasi tidak bisa dijadikan buku. Ranahnya berbeda; karya ilmiah untuk tujuan ilmiah akademis, sementara buku menjadi bacaan semua kalangan.
Supaya karya ilmiah dapat diterbitkan menjadi buku dan menjadi konsumsi khlayakan banyak maka dilakukan parafrase. Mengubah bahasa yang berat dan akademis yang menjadi ciri khas karya ilmiah menjadi bahasa yang lebih ringan dan dimengerti oleh banyak orang. Tentu saja tetap menjaga pengertian dan makna yang disampaikan dalam karya ilmiah tersebut. Memang, akhirnya kita melakukan kerja dua kali. Menulis karya ilmiah dan sekaligus mengubahnya menjadi buku yang lebih mudah dipahami dan dicerna oleh banyak orang.
Jika kita melakukan parafrase secara baik, kemungkinan besar buku yang kita hasilkan memberi banyak manfaat kepada banyak orang, meskipun secara tidak langsung hanya mengubah format karya tulis, dari dari karya ilmiah yang kaku dan akademis menjadi buku yang enak dibaca dan membumi. Teknik parafrase memang memberi alternatif kepada para penulis yang sebelumnya sudah memiliki karya berupa karya ilmiah, untuk membuat buku yang ide besarnya berasal dari karya ilmiah tersebut. Tentu saja dengan sentuhan bahasa yang lebih luwes.
Mungkin sebagian kita yang mencoba melakukan parafrase, masih merasa bingung bagaimana cara melakukannya. Jika tidak memahami secara baik, bisa jadi hasil parafrase lebih buruk ketimbang naskah aslinya.
Berikut jenis-jenis parafrase yang dapat kita jadikan rujukan, setidaknya dapat membantu kita bagaimana membuat parafrase yang baik.
Parafrase ini juga disebut parafrase leksikal. Pada parafrase jenis ini, kita dapat mengganti kata dengan kata lain yang memiliki kedekatan makna, atau memiliki sinonim. Istilah ekuevalen sendiri merujuk erat kaitannya dengan aktivitas penerjemaah. Biasanya dalam melakukan aktivitasnya penerjemah mencari arti kata dari bahasa pertama yang sama dengan Bahasa yang akan diterjemahkan.
Lebih jelasnya lihatlah contoh berikut.
Dia adalah seorang penulis novel.
Dia merupakan seorang penulis novel.
Kata adalah dan merupakan memiliki makna yang nyaris sama. Sehingga penggantian kata adalah menjadi merupakan tikdak mengubah arti. Karena memiliki makna yang sama.
2. Parafrasa Keantoniman Ingkaran
Parafafrase berikutnya ialah keantoniman ingkaran. Antonim sendiri berarti berlawanan. Jadi pada parafrase ini menyiratkan bentuk ingkar lain terhadap bentuk sebelumnya yang sudah dingkarkan. Biar tidak bingung, mari kita perhatikan contoh di bawah ini:
Nasi ini tidak panas, tetapi hangat.
Nasi ini tidak panas, hanya hangat.
Kalimat di atas (1) menyatakan pengingkaran dengan kalimat nasi itu tidak panas, dengan bentuk ingkat yang lain yaitu dengan menggunakan kata tetapi hangat. Pada no 2 sebagai bentuk parafrase, ditekankan dengan kata hanya. Yang artinya tetap sebagaimana nomor 1. Sehingga tidak ada arti dan makna yang berubah.
Perlu dicatat, menurut Kesuma, parafrasa jenis ini bersifat terbatas.
3. Parafrasa Generik-Spesifik
Sebagaimana namanya pada parafrase ini, kita dapat mengubah kata yang mengandung makna generik ke bentuk spesifik. Dari makna yang sifatnya umum dengan makna yang artinya khusus. Berikut contohnya:
Pemain nomor 5 membawa bola ke depan gawang.
Pemain nomor 5 menggiring bola ke depan gawang.
Kita dapat melakukan teknik ini, terlebih ketika menulis sebuah topik yang spesifik, yang membutuhkan pemaknaan yang lebih mendalam. Dalam contoh tersebut, kata menggiring lebih pas dan khusus ketika dipakai dalam dunia sepakbola, ketimbang kata membawa. Kata menggiring bola memiliki arti membawa dengan kaki, sehingga pas untuk melukiskan kegiatan dalam sepak bola.
Nah, kalau para parafrasa ini justru kebalikannya. Yakni mengubah kata yang bermakna spesifik menjadi makna yang gnerik, yang umum.
Andra merupakan seorang pemetik gitar.
Andra merupakan seorang pemain gitar.
Informasi yang dihasilkan dari bentuk parafrase di atas ialah semakin mudahnya kalimat itu dimengerti. Pemetik itu spesifik, dan karena itu sering tidak bisa dimengerti. Khususnya mereka yang baru mengenal atau mendalami main gitar. Kata pemain justru lebih dimengertai dan dipahami.
Sebagaimana namanya, parafrfase ini adalah bentuk parafrase yang memberikan tambahan, amplifikasi, sebagai bentuk baru yang melengkapi kalimat yang dilakukan parafrase.
Sinta sedang makan.
Sinta sedang makan pizza.
Kebalikan dari parafrase amplifikasi, parafrase kontraksi ini justru menyelapkan informasi tambahan, namun tidak mengubah secara subtansi kalimat tersebut.
Rasyid lahir di Padang, 12 Maret 2001, pada pukul 17.00 WIB.
Rasyid lahir di Padang, 12 Maret 2001.
Parafrasa rangkuman dapat diterapkan ketika kita menemukan dua kalimat yang sebetulnya masih memungkinkan untuk dilebur.
Andi tinggal di Medan. Ardi pun tinggal di Medan.
Andi dan Ardi tinggal di Medan.
Parafrase ini paling sering dipakai. Mengubah struktur kalimat dari kalimat aktif menjadi pasif atau sebaliknya. Mengubah posisi keterangan yang biasanya di belakang menjadi didepan Coba perhatikan contoh kalimat berikut.
Rani sedang membaca buku di perpustakaan.
Di perpustakaan, Rani sedang membaca buku.
Terlihat ada kata ketengaran yang berada di belakang diubah menjadi di depan.
Parafrasa perifrastis memungkinkan kita untuk melakukan parafrasa dengan menambahkan unsur-unsur sintaksis yang dirasa perlu.
Motor saya sedang dipakai Mbak Yeli.
Motor saya sedang dipakai oleh Mbak Yeli.
Kata “oleh” merupakan unsur sintaksis yang dapat ditambahkan pada kalimat di atas. Anda pasti bisa menemukan kata-kata yang dirasa dapat melengkapi atau bisa ditambahkan kepada kalimat saat melakukan parafrase. Misalnya kata “dan” dalam contoh berikuta
Ayah Ibu pergi ke pasar
Ayah dan Ibu pergi ke pasar.
Tips yang dapat anda lakukan sebelum melakukan parafrase.
Itulah hal-hal tentang parafrase. Setelah mengetahui tentang parafrase, tentunya Anda sudah mulai memahami teknik melakukannya. Mungkin pada awalnya ada kekurangan dan kesulitan yang anda alami. Namun semakin banyak berlatih dan terus berlatih hasil yang Anda dapatkan lebih baik dari waktu ke waktu. Kuncinya semakin banyak bergumul dengan teks, semakin baik kualitas tulisan anda.
Selamat mencoba!
Anda mau mengembangkan ide menjadi sebuah tulisan? Postingan ini semoga membantu Anda. Seringkali tidak datangnya ide menjadi faktor penghambat para penulis dalam berkarya. Hasrat menulis yang membara mendadak padam, akibat tidak menemukan ide yang pas untuk tulisannya. Persoalan menemukan ide... Selengkapnya
Rasanya kok aneh, apabila seorang bercita-cita menjadi penulis sementara dia enggan membaca. Bagaimana tidak aneh, membaca itu proses yang pasti dilalui mereka yang kemudian menulis. Yah, meskipun menulis di sini dapat diartikan menulis apa saja, termasuk menulis pesan di whatsapp,... Selengkapnya
Ada sementara anggapan bahwa kegiatan menulis buku hanya milik kaum cendekiawan. Orang-orang berilmu dan memiliki gelar tinggi. Mereka yang besar dalam kalangan lembaga akademis, seperti dosen atau dari kalangan yang ahli di bidang tertentu. Orang-orang yang taraf ilmunya sudah sangat... Selengkapnya
Belum ada Komentar untuk Parafrase sebagai Teknik Menghindari Plagiarisme